Minggu, 22 September 2013
Mama Abdul Jabar

RIWAYAT SINGKAT
KH. AMILIN ABDUL JABAR
Kata Pengantar
Segala puji dan syukur di sertai kerendahan hati kehadirat Alloh SWT, Dzat Asmanya Abdul Jabar. Kami menyusun, menulis dan merangkum Riwayat hidup KH. AMILIN ABDUL JABAR (Mama Iming (Alm)). Dengan segala kekurangan, kehilafan, atau pun kealfaan, Alhamdulillah rangkuman riwayat hidup beliau terlaksana kami susun dan seandainya dalam penyusunan / penulisan ada bahasa yang kurang tepat, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Demikian semoga riwayat hidup beliau ini akan memberikan keyakinan penuh bagi kita semua yang sepaham, sepengertian dan seaqidah dalam mempelajari Ilmu Pengertian Asma Abdul Jabar.
RIWAYAT SINGKAT
KH. MAMA AMILIN ABDUL JABAR
KH. MAMA AMILIN ABDUL JABAR di lahirkan pada tahun 1896 di kampung Cimencek Cintarakyat (Tjimentjek Tjintarakjat) Garut - Jawa Barat - Indonesia, Kemudian pada usia 7 tahun (tahun 1903) beliau masuk ke Sekolah Rakyat Subsidi, di Samarang Garut selama 6 tahun, lulus Sekolah Rakyat pada tahun 1909. Selanjutnya pada tahun itu juga mulai belajar mengaji Al-Qur’an (masuk pesantren) pada Ajengan ROJI di kampung Tanjung singuru Garut, pada tahun 1915 beliau melanjutkan pendidikan kepesantrenan pada Ajengan IMAM PODJAN (Garut). Setelah beliau menimba ilmu keagamaan, maka pada tahun 1921 beliau mulai memberikan pelajaran kepada anak-anak di kampung Pangsor Desa Sukarasa Kecamatan Samarang Garut. Pada tahun 1928 KH. Amilin Abdul Jabar pergi menunaikan ibadah haji ke Mekah Al-Mukaromah, serta oleh IMAM SAFE’I beliau di beri gelar nama: HAJI ABDUL JABAR, lalu memperdalam Ilmu Islam Tauhid kepada Syekh Patoni serta akhirnya beliau pulang kembali ke garut. Berhubungan dengan timbulnya masa peralihan maka keadaan meminta untuk bertindak bahkan rakyat seluruhnya mrnjadi berubah, gerak dan bergejolak serta memberontak. Kesimpulannya pada tahun 1945 KH. Mama Amilin Abdul Jabar beserta kawan-kawan seluruhnya kurang lebih 3.000 (tiga ribu) orang berhijrah menuju ke kota Bandung dengan perjalanan berangsur-angsur serta bermarkas:
1. Di Jalan Kepatihan
2. Di Jalan Tikukur (Jalan HB)
3. Di Jalan Kebon manggu
4. Di Jalan Lengkong Besar
KH. AMILIN ABDUL JABAR
Kata Pengantar
Segala puji dan syukur di sertai kerendahan hati kehadirat Alloh SWT, Dzat Asmanya Abdul Jabar. Kami menyusun, menulis dan merangkum Riwayat hidup KH. AMILIN ABDUL JABAR (Mama Iming (Alm)). Dengan segala kekurangan, kehilafan, atau pun kealfaan, Alhamdulillah rangkuman riwayat hidup beliau terlaksana kami susun dan seandainya dalam penyusunan / penulisan ada bahasa yang kurang tepat, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Demikian semoga riwayat hidup beliau ini akan memberikan keyakinan penuh bagi kita semua yang sepaham, sepengertian dan seaqidah dalam mempelajari Ilmu Pengertian Asma Abdul Jabar.
RIWAYAT SINGKAT
KH. MAMA AMILIN ABDUL JABAR
KH. MAMA AMILIN ABDUL JABAR di lahirkan pada tahun 1896 di kampung Cimencek Cintarakyat (Tjimentjek Tjintarakjat) Garut - Jawa Barat - Indonesia, Kemudian pada usia 7 tahun (tahun 1903) beliau masuk ke Sekolah Rakyat Subsidi, di Samarang Garut selama 6 tahun, lulus Sekolah Rakyat pada tahun 1909. Selanjutnya pada tahun itu juga mulai belajar mengaji Al-Qur’an (masuk pesantren) pada Ajengan ROJI di kampung Tanjung singuru Garut, pada tahun 1915 beliau melanjutkan pendidikan kepesantrenan pada Ajengan IMAM PODJAN (Garut). Setelah beliau menimba ilmu keagamaan, maka pada tahun 1921 beliau mulai memberikan pelajaran kepada anak-anak di kampung Pangsor Desa Sukarasa Kecamatan Samarang Garut. Pada tahun 1928 KH. Amilin Abdul Jabar pergi menunaikan ibadah haji ke Mekah Al-Mukaromah, serta oleh IMAM SAFE’I beliau di beri gelar nama: HAJI ABDUL JABAR, lalu memperdalam Ilmu Islam Tauhid kepada Syekh Patoni serta akhirnya beliau pulang kembali ke garut. Berhubungan dengan timbulnya masa peralihan maka keadaan meminta untuk bertindak bahkan rakyat seluruhnya mrnjadi berubah, gerak dan bergejolak serta memberontak. Kesimpulannya pada tahun 1945 KH. Mama Amilin Abdul Jabar beserta kawan-kawan seluruhnya kurang lebih 3.000 (tiga ribu) orang berhijrah menuju ke kota Bandung dengan perjalanan berangsur-angsur serta bermarkas:
1. Di Jalan Kepatihan
2. Di Jalan Tikukur (Jalan HB)
3. Di Jalan Kebon manggu
4. Di Jalan Lengkong Besar
Adapun sasaran yang menjadi tujuan pertama yaitu HOTEL HOMAN, karena di hotel tersebut bisa di katakan sebagai markas besarnya tentara Belanda. Selanjutnya KH. Mama Amilin Abdul Jabar bersama kawan-kawan semuanya dalam cara melakukan tiap-tiap serangan itu bersama-sama memakai tanda (ciri) GELANG MERAH di tangan, sehingga rombongan KH. Mama Amilin Abdul Jabar di namakan “PASUKAN GELANG MERAH”.
Kemudian tibalah masanya KH. Amilin Abdul Jabar bersama seluruh pasukan GELANG MERAH mundur teratur, serta pasukan tersebut dibagi menjadi dua tempat (2 markas), Pertama bermarkas di Ujung Berung dan kedua di Majalaya, semuanya mundur secara teratur pindah ke Garut serta bermarkas di kampung Sanding Desa Sukarasa (Samarang Garut). Selanjutnya pada tahun 1946 ada pengumuman harus pergi ke Jogja dan sebagian pasukan di pimpin oleh Sdr. SURIPNO serta terbagian lagi menjelma menjadi Laskar Rakyat. Setelah pasukan itu bercerai-berai, maka pada tahun 1950 KH. Amilin Abdul Jabar dkk pergi ke Jakarta, itupun tak lama KH. Amilin Abdul Jabar dkk pun pulang kembali ke Garut (tempat kediaman dahulu). Namun oleh karena pada saat itu disekitar Garut timbul berbegai kekacauan yang dikarenakan dengan gangguan gerombolan D.I sehingga pembunuhan-pembunuhan dan pembakaran-pembakaran sangat merajalela, kesimpulannya rumah pasukan KH. Amilin Abdul Jabar sendiri pun habis terbakar. Maka oleh karena itu pada tahun 1952 pasukan KH. Amilin Abdul Jabar bersama keluarga seluruhnya pindah ke Desa Lengkong besar kota Bandung, sejak tinggal di daerah Kota Besar Bandung maka pada saat itu dengan sendirinya pasukan KH. Amilin Abdul Jabar terbentuk sebagai ketua Penasehat UKP per RI (Usaha Korban Perjuangan Rrepublik Indonesia) dan merangkap menjadi PRD Pusat (Persatuan Rakyat Desa) Pusat, yang bermamksud tunduk dan patuh kepada Pemerintah dan pendirian “beragama Islam”, serta pada saat itu KH. Amilin Abdul Jabar dkk tidak memeluk (Mengalap) Torekat dan tidak pula memberikan pelajaran Torekat. Pada tahun 1955 Mama Haji Amilin Sekeluarga pindah ke Jl. Lengkong besar Bandung, pekerjaannya kalaun siang puasa dan kalau malam Tahajud yang banyaknya 24 rakaat, 12 kali salam. Selama ada di kota Bandung banyak orang yang bertanya dan meminta tolong dalam hal penyakit, perjodohan, Pekerjaannya dsb. Siapa saja yang datang kerumah Beliau Mama Kyai Amilin selalu di layani dengan baik, mereka yang dating itu dari berbagai kalangan ada bangsa Cina bangsa Belanda , bangsa Budha apalagi orang / masyarakat Indonesia Yang tidak pernah sholat, Yang nakal baragajul, perempuan nakal semuanya selalu dipanggil oleh Mama Kyai Amilin, disayang dikasih nasehat supaya berpikir menuju jalan yang lurus di Ridhoi oleh Alloh SWT.
Kejadiannya banyak perempuan yang nakal pada insyaf menempuh jalan yang diridhoi oleh Alloh SWT. Orang-orang yang tadinya jahat, kejam dan menindas orang lemah menjadi sholeh setelah bertemu dengan Mama Kyai Amilin, selalu di bimbing supaya dekat kepada Alloh SWT. Begitu jasanya Mama Kyai Amilin selama masa hidupnya dari mulai berjuang serta memerangi kemungkaran sampai dengan member nasihat supaya orang-orang insyaf dan berfikir kembali kejalan yang benar dan lurus. Sebagaimana yang di inginkan setiap waktu “IHDINASSIROOTHOL MUSTAQQIIM.” Namun namanya juga perjuangan dalam kebaikan pasti ada orang yang pro dan ada pula yang kontra, tidak kurang-kurang penyebaran ilmu “ISTIJRAD” (Ilmu Sihir), diantaranya ada yang “kelu” penyebaran ajaran Syetan Terkutuk katanya, “Na’udzubillah Himindzalik”, mentang-mentang tidak dipikir dulu, lidah tak bertulang, mulut pun tidak dijaga. Semua yang diwiridkan oleh Mama Kyai Amilin di ambil dari ayat-ayat suci Al-Qur’an tidak ada yang melanggar hukum agama Islam. Sebab kalau sihir tidak perlu memakai Ayat-ayat Al-Qur’an, cukup dengan jangjawokan juga bisa, sebab itu dibantu oleh Syetan yaitu yang disebut “ISTIJRAD.” Mama Kyai Amilin mempunyai istri semuanya ada 10 orang. Setiap mau memadu, beliau bicara terlebih dahulu kepada istri yang tua, yang sama tua dijadikan yang kedua, ketiga, ke empat, dst dapat memilihkan. Dari kesepuluh istrinya di karuniai 23 orang anak, dan hanya dua orang anak saja yang menjadi pegawai Negri Sipil yang lainnya mengikuti jejak Mama Kyai Amilin. Anaknya ada yang tinggal di Jakarta, di Garut dan yang paling banyak tinggal di kabupaten Bandung. Semua yang datang ke Kyai Mama Amilin yang diberi bacaan dan saran tidak disebut murid tetapi cukup disebut anak saja. Semua anak-anak Mama Kyai setelah diberi bacaan dan pelajaran hukum Agama Islam, maka hasilnya dari masing-masing anak-anak itu mempunyai keahlianya yang tidak sama satu sama lainnya. Diantaranya ada yang bisa mengobati gangguan jiwa ada juga yang bisa melihat jarak jauh. Misalnya, melihat rumah seseorang bisa dari jarak jauh, ada juga yang bisa mengobati sakit gigi, mata, perut, dsb. Tetapi bacaan yang diberikan Mama Kyai semuanya sama, namun hasil yang diterima sama putra-putranya itu berbeda-beda.
Intinya hakekat Abdul Jabar hanya untuk keselamatan dan pertolongan kesesama Ummat walaupun orang itu bukan Bangsa Indonesia juga bukan agama Islam. Apabila orang tersebut minta tolong, maka kita pun harus memberi pertolongan. Bagi orang-orang yang memegang Hakekat Abdul Jabbar kalau menolong seseoarang, niatnya harus ikhlas “Lillahita’ala”. Itu wasiat dari Mama Kyai. Para Putra Mama Kyai sampai saat ini sudah menyebar bukan hanya di pulau Jawa saja, tetapi sudah di seluruh Nusantara.
Pada saat sudah mendekati waktunya Mama KH. Amilin Abdul Jabar pulang ke Rahmatulloh, Mama KH. Amilin Abdul Jabar memberi wasiat kepada istri yang tua, “Mama kalau meninggal dunia mau dimakamkan ditanah milik, setelah makam Mama selama setahun harus didirikan mesjid, perhatikan airnya jangan sampai kekurangan, sediakan kamar mandi untuk orang yang memerlukan . Tempat yang terpilih oleh Mama Kyai yaitu di Desa Dayeuh Kolot, Bojong Asih Kab. Bandung. Mesjid tersebut sepi pada waktu sholat berjama’ah, namun lama kelamaan masyarakat di daerah tersebut mulai berpikir , sayang sekali kalau mesjid ini tidak di pergunakan untuk kemashlahatan umat, dimanfaatkan untuk umum dan khususnya putra-putra Mama Kyai yang mau ziarah kesana. Kenapa di belakang nama Mama Kyai Amilin ditambah nama Abdul Jabbar? Sebab faham yang diwiridkan oleh Syaikhuna Mama itu dinamakan Faham Abdul Jabbar. Mama Kyai Haji Abdul Jabbar meninggalnya pada usia 66 Tahun yakni pada tahun 1962. Innalillahi Wainna Ilaihi Rooji’uun.
Keterangan lain:
Ayahanda dari KH. Mama Amilin yaitu Bapak H. Sarbini besrta Ibu Hj. Imoh mempunyai 5 (lima) Putra.
1. Bapak Idris
2. Bapak Darma
3. Bapak Iming (KH. Amilin Abdul Jabbar)
4. Bapak Ika
5. Bapak Kasidin
Mama KH Amilin Abdul Jabbar (Mama Iming) mempunyai 10 istri dan 23 putra-putri, dari istri ke satu, Yaitu Ibu Suliah mempunyai tiga anak diantaranya:
1. Bapak H. Thosin
2. Ibu S. Hapsyah
3. Ibu S. Supiyah
Dari istri kedua, yaitu Ibu Hj. Emur (Ma Ageng) mempunyai 7 anak diantaranya:
1. Bapak H. Sadiqin
2. Ibu M. Rumanah
3. Bapak U. Nasrudin
4. Bapak S. Sunarya
5. IbuCacas Kindisyah
6. Bapak I. Rosidik
7. Ibu Rusyarik
Dari istri ketiga, yaitu ibu Mu’ah mempunyai 11 anak diantaranya:
1. Bapak Uban Rukban
2. Ibu Siti Markonah
3. Bapak H. Isykak Wijaya
4. Ibu Maya Wati
5. Bapak Shobur
6. Bapak Shobar
7. Bapak Rohmat Salamet
8. Ibu Tati Sarimanah
9. Ibu Iyam Maryamah
10. Bapak Maksum
11. Ibu Siti Nurcipta
Dari istri ke empat, yaitu Ibu Ining tidak mempunyai anak
Dari istri ke Lima, yaitu Ibu Irah tidak mempunyai anak
Dari istri ke enam, yaitu Ibu Diva tidak mempunyai anak
Dari istri ke tujuh, yaitu Ibu Siti Khadijah tidak mempunyai anak
Dari istri ke delapan, yaitu Ibu Hj. Idah mempunyai anak satu yaitu Ibu Lilis Setia Wati
Dari istri ke Sembilan, yaitu Ibu Popon mempunyai anak satu, yaitu Bapak Haji Barjah Sukana
Dari Istri ke sepuluh yaitu Ibu Nawangsih tidak mempunyai anak dan wafatnya juga menghilang (tilem).
Amanat KH. Amilin Abdul Jabar sebelum wafat, beliau wafat pada hari sabtu, jam 01.15 malam, silih mulud 1962, di kediamannya Ancol Timur 3 No 20 Bandung. Beliau menyampaikan Amanat kepada keluarga di saksikan oleh mang Empuy: “Andaikan Mama meninggal, Mama minta di makamkan di dayeuh kolot tepatnya di daerah Kp. Bojong Asih Gg. Budi Asih, di tanah zariah yang di berikan oleh Bapak Nunung Suhandadan di sampingnya minta di bangun Mesjid kecil atau Moshola yang sampai sekarang Mesjid tersebut di beri nama Mesjid Al-Ma’mur Baitul Jabar. Juga bila kelak mang Empuy wafat agar di makamkandi samping makam Mama (KH. Amilin Abdul Jabar)”. Dan amanah terakhirMama untuk seluruh Ikhwan-ikhwan yang mempelajari pengertian / ilmu Asma Abdul Jabar untuk tetap menjaga dan mengamalkan dalam keimanan dan keislaman yang nyata, jangan sampai menjadi musyrik.
sumber :
Baitul Jabbar
Abdul jabbar adalah hamba allah yg gagah perkasa...
Diasumsikan saja bahwa kata "kita-kita" pada kalimat di atas maksudnya adalah saya dan anda dan semua orang.................................
Jika kita merujuk kalimah "Lahaola Walaquwata ilabillahi aliyul adzim"(mohon maaf jika salah nulis transliterasinya), Tidak ada daya dan kekuatan milik saya yang menyertai saya, hanya lah daya dan kekuatan milik Allah lah yang menyertai saya.
Dari ayat tersebut di atas, bisa di ambil petikan, bahwa
- tidak ada daya dan kekuatan selain milik Allah
- saya(atau siapapun atau kita-kita) sangatlah tidak berdaya dan berkekuatan tanpa daya dan kekuatan milik Allah
Jika secara kata Abdul Jabbar>> Abdi-Na/Hamba-Nya yang Gagah Perkasa, maka bisa disebut "Abdul Jabbar" ialah "Abdi-Na/Hamba-Nya yang Gagah Perkasa", "Abdul Jabbar" bukanlah "Mama", namun "Mama" kagelaran/digelari Oleh Kehendak-Nya dengan gelar "Abdul Jabbar", jadi yang "gagah perkasa" bukanlah "Mama" tapi yang "Gagah Perkasa" ialah "Abdi-Na/Hamba-Nya" yang tadi disebutkan yaitu atas Nama "Abdul Jabbar".
Guru, Murid dan ana
Berdasarkan pengalaman yang teralami oleh ana, Saudara sepupu ana pernah berkata: "Panggihkeun Guru atawa murid nu marengan diri"(indonesia: Temukan Guru atau murid yang menyertai diri).
RIWAYAT SINGKAT MAMA AMILIN
Nama asli : Amilin, lahir di Garut thn 1893, .Tahun 1909 masuk pesantren di kp. Tanjung Singuru (garut) pada Ajengan Imam Kodji, terus pesantren di kp. Kopok Balerante, Cirebon, trus ke pesantren Kresek Cibunder dan Cibatu Garut.. tahun 1928 naik haji dan mendapat gelar Haji Abdul Jabar dari Imam Saf’i dan belajar ilmu tauhid di Mekkah dengan Syaikh Patoni.
Tahun 1945 berangkat ke Bandung ikut perang dengan pasukan kurang lebih 3000 orang dikenal dengan pasukan Gelang Merah, karena pake gelang merah ditangan..
Nama asli : Amilin, lahir di Garut thn 1893, .Tahun 1909 masuk pesantren di kp. Tanjung Singuru (garut) pada Ajengan Imam Kodji, terus pesantren di kp. Kopok Balerante, Cirebon, trus ke pesantren Kresek Cibunder dan Cibatu Garut.. tahun 1928 naik haji dan mendapat gelar Haji Abdul Jabar dari Imam Saf’i dan belajar ilmu tauhid di Mekkah dengan Syaikh Patoni.
Tahun 1945 berangkat ke Bandung ikut perang dengan pasukan kurang lebih 3000 orang dikenal dengan pasukan Gelang Merah, karena pake gelang merah ditangan..
Pernah juga tinggal di Kramat pulo jakarta tahun 1950, tapi gak lama, pulang lagi ke Garut kerumah lamanya di kp. Cimencak desa Cintarajat. dan Tahun 1952 pindah ke daerah Lengkong Bandung.
Mama, pernah kimpoi lima kali, jumlah anak 21 orang
1. Ibu Ijah : punya anak : Tosin, Ocoh, Upi
2. Ibu. Hj. Ageung : punya anak : H. Sodikin, Munarusanah,
Nasrudin, Suryana, Idik, Cacas Kandasah
3. Ibu Hj. Maemunah : Ruhbana, Markonah. K.H. Ishak Wijaya,
Maya, Sobur, Sobar, Slamet, Tati Sarimanah. Iyam Maryamah,
Maksum.
4. Ibu Idah : Lilis
5. Ibu Popo : Barja
sumber ; server-gudang.blogspot.com
Almanak
Telah banyak buah karya
Ulama kita yang sangat bermanfaat salah satunya adalah almanak hijriah.
Memang ada perbedaan sedikit di berbagai daerah tentang ejaan dan
penghitungan dan alhamdulilah saya mendapatkan almanak dan cara
penghitungan dari Guru saya yang sangat saya hormati ( saya haturkan
banyak terimakasih ) . Dalam alamanak ini tahun - tahunnya dituliskan
berdasarkan numerologi huruf arab seperti tahun alif, jim dal..dan
seterusnya dengan penghitungan hari yang matang dengan almanak ini
semoga ikhwan dapat memberikan komentar dan masukan barangkali diantara
ikhwan semua ada yang mempunyai alamanak serta mengetahui cara lain
dalam penghitungannya.
gambar di bawah ini merupakan almanak buah karya K.H. Mama Amilin Syekh Abdul Jabbar
gambar
di bawah ini adalah csalah satu contoh dari almanak hijriah buah karya
K.H.Mama Amilin Syekh Abdul Jabbar yang saya dapat dari Guru saya yang
sangat saya hormati.
gambar di bawah ini saya dapat dari ngegogling, kalau nggak salah gambar ini berasal dari negara Brunai Darusalam .

“Dia (Allah) yang menjadikan matahari memancarkan sinar dan bulan memantulkan cahaya, dan Dia menentukan tahap-tahap peredarannya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Allah tidak menciptakan hal itu melainkan dengan kebenaran. Dia menjelaskan ayat-ayat-Nya bagi orang-orang yang berpengetahuan” (Al-Qur’an, Surat Yunus ayat 5).
MESKIPUN
negara kita memakai kalender Masehi sebagai almanak resmi, kalender
Hijriyah tidaklah mungkin diabaikan, sebab mayoritas bangsa kita memeluk
agama Islam yang menggunakan kalender Hijriyah untuk menentukan puasa
Ramadhan dan Idul Fitri, ibadah haji dan Idul Adha, masa iddah istri
yang ditinggal suami, perhitungan zakat tahunan, dan sebagainya.
Kenyataannya, sampai awal abad ke-20 kalender Hijriyah masih dipakai
oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara. Bahkan raja Karangasem Ratu Agung
Ngurah yang beragama Hindu, dalam surat-suratnya kepada gubernur
jenderal Hindia Belanda Otto van Rees yang beragama Nasrani, masih
menggunakan tarikh 1313 Hijriyah (1894 Masehi). Kalender Masehi secara
resmi dipakai di seluruh Indonesia mulai tahun 1910 dengan berlakunya
Wet op het Nederlandsch Onderdaanschap, hukum yang menyeragamkan seluruh
rakyat Hindia Belanda.
Jenis-jenis KalenderAda tiga jenis kalender yang dipakai umat manusia penghuni planet ini.
Pertama,
kalender solar (syamsiyah, berdasarkan matahari), yang waktu satu
tahunnya adalah lamanya bumi mengelilingi matahari: 365 hari 5 jam 48
menit 46 detik atau 365,2422 hari.
Kedua,
kalender lunar (qamariyah, berdasarkan bulan), yang waktu satu tahunnya
adalah dua belas kali bulan mengelilingi bumi: 29 hari 12 jam 44 menit 3
detik (29,5306 hari = 1 bulan) dikalikan dua belas, menjadi 354 hari 8
jam 48 menit 34 detik atau 354,3672 hari.
Ketiga,
kalender lunisolar, yaitu kalender lunar yang disesuaikan dengan
matahari. Oleh karena kalender lunar dalam setahun 11 hari lebih cepat
dari kalender solar, maka kalender lunisolar memiliki bulan interkalasi
(bulan tambahan, bulan ke-13) setiap tiga tahun, agar kembali sesuai
dengan perjalanan matahari.Kalender Masehi, Iran dan Jepang merupakan
kalender solar, sedangkan kalender Hijriyah dan Jawa merupakan kalender
lunar.
Adapun
contoh kalender lunisolar adalah kalender Imlek, Saka, Buddha, dan
Yahudi. Semua kalender tidak ada yang sempurna, sebab jumlah hari dalam
setahun tidak bulat. Untuk memperkecil kesalahan, harus ada tahun-tahun
tertentu menurut perjanjian yang dibuat sehari lebih panjang (tahun
kabisat atau leap year).Pada kalender solar pergantian hari berlangsung
tengah malam (midnight) dan awal setiap bulan (tanggal satu) tidak
tergantung pada posisi bulan. Adapun pada kalender lunar dan lunisolar
pergantian hari terjadi ketika matahari terbenam (sunset) dan awal
setiap bulan adalah saat konjungsi (Imlek, Saka, dan Buddha) atau saat
munculnya hilal (Hijriyah, Jawa, dan Yahudi). Oleh karena awal bulan
kalender Imlek dan Saka adalah akhir bulan kalender Hijriyah, tanggal
kalender Imlek dan Saka umumnya sehari lebih dahulu (kadang-kadang dua
hari, jika hilal ternyata masih di bawah ufuk) dari tanggal kalender
Hijriyah.Kalender Arab Pra-IslamSebelum kedatangan agama Islam yang
dibawa Nabi Muhammad s.a.w., masyarakat Arab memakai kalender lunisolar,
yaitu kalender lunar yang disesuaikan dengan matahari. Tahun baru (Ra’s
as-Sanah = “Kepala Tahun”) berlangsung setelah berakhirnya musim panas
sekitar September. Bulan pertama dinamai Muharram, sebab pada bulan itu
semua suku atau kabilah di Semenanjung Arabia sepakat untuk mengharamkan
peperangan. Pada bulan Oktober daun-daun menguning sehingga bulan itu
dinamai Shafar (“kuning”). Bulan November dan Desember pada musim gugur
(rabi`) berturut-turut dinamai Rabi`ul-Awwal dan Rabi`ul-Akhir. Januari
dan Februari adalah musim dingin (jumad atau “beku”) sehingga dinamai
Jumadil-Awwal dan Jumadil-Akhir. Kemudian salju mencair (Rajab) pada
bulan Maret.Bulan April di musim semi merupakan bulan Sya`ban (syi`b =
lembah), saat turun ke lembah-lembah untuk mengolah lahan pertanian atau
menggembala ternak. Pada bulan Mei suhu mulai membakar kulit, lalu suhu
meningkat pada bulan Juni. Itulah bulan-bulan Ramadhan (“pembakaran”)
dan Syawwal (“peningkatan”). Bulan Juli merupakan puncak musim panas
yang membuat orang lebih senang duduk di rumah daripada bepergian,
sehingga bulan ini dinamai Dzul-Qa`dah (qa`id = duduk). Akhirnya,
Agustus dinamai Dzul-Hijjah, sebab pada bulan itu masyarakat Arab
menunaikan ibadah haji ajaran nenek moyang mereka, Nabi Ibrahim
a.s.Setiap bulan diawali saat munculnya hilal, berselang-seling 30 atau
29 hari, sehingga 354 hari setahun, 11 hari lebih cepat dari kalender
solar yang setahunnya 365 hari. Agar kembali sesuai dengan perjalanan
matahari dan agar tahun baru selalu jatuh pada awal musim gugur, maka
dalam setiap periode 19 tahun ada tujuh buah tahun yang jumlah bulannya
13 (satu tahunnya 384 hari). Bulan interkalasi atau bulan ekstra ini
disebut nasi’ yang ditambahkan pada akhir tahun sesudah
Dzul-Hijjah.Ternyata tidak semua kabilah di Semenanjung Arabia sepakat
mengenai tahun mana saja yang mempunyai bulan nasi’. Masing-masing
kabilah seenaknya menentukan bahwa tahun yang satu 13 bulan dan tahun
yang lain cuma 12 bulan. Lebih celaka lagi jika suatu kaum memerangi
kaum lainnya pada bulan Muharram (bulan terlarang untuk berperang)
dengan alasan perang itu masih dalam bulan nasi’, belum masuk Muharram,
menurut kalender mereka. Akibatnya, masalah bulan interkalasi ini banyak
menimbulkan permusuhan di kalangan masyarakat Arab yang saat itu masih
dalam suasana jahiliyah.Pemurnian Kalender LunarSetelah masyarakat Arab
memeluk agama Islam dan bersatu di bawah pimpinan Nabi Muhammad s.a.w.,
maka turunlah perintah Allah SWT agar umat Islam memakai kalender lunar
yang murni dengan menghilangkan bulan nasi’. Hal ini tercantum dalam
kitab suci Al-Qur’an Surat at-Taubah ayat 36 dan 37:“Sesungguhnya
bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketentuan
Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, empat daripadanya
bulan-bulan haram (Dzul-Qa`dah, Dzul-Hijjah, Muharram, Rajab). Itulah
keputusan yang lurus (sesuai peredaran benda langit). Maka janganlah
kamu menganiaya dirimu (dengan berperang) pada bulan-bulan haram itu.
Dan (jika bulan-bulan haram telah lewat) perangilah kaum musyrikin
seutuhnya sebagaimana mereka memerangimu secara utuh pula. Ketahuilah
bahwa Allah menyertai orang-orang yang bertaqwa.Sesungguhnya bulan nasi’
(interkalasi) hanyalah tambahan bagi kekafiran. Orang-orang kafir
tersesat oleh bulan nasi’ itu. Mereka menghalalkan tahun yang satu dan
mengharamkan tahun yang lain untuk memanipulasi bilangan bulan yang
diharamkan Allah, sehingga mereka menghalalkan (perang) yang diharamkan
Allah. Dihiaskan kepada mereka keburukan perbuatan mereka. Allah tidak
memberikan petunjuk kepada orang-orang kafir.”Dengan turunnya wahyu
Allah di atas, maka Nabi Muhammad s.a.w. mengeluarkan dekrit bahwa
kalender Islam tidak lagi tergantung kepada perjalanan matahari. Hal ini
lebih dipertegas dalam khutbah Nabi di Arafah tatkala beliau menunaikan
haji. Meskipun nama-nama bulan dari Muharram sampai Dzul-Hijjah tetap
digunakan karena sudah populer pemakaiannya, bulan-bulan tersebut
bergeser setiap tahun dari musim ke musim, sehingga Ramadhan
(“pembakaran”) tidak selalu pada musim panas dan Jumadil-Awwal (“beku
pertama”) tidak selalu pada musim dingin.Mengapa harus kalender lunar
murni? Hal ini disebabkan agama Islam bukanlah hanya untuk masyarakat
Arab di Timur Tengah saja, melainkan untuk seluruh umat manusia di
berbagai penjuru bumi yang letak geografis dan musimnya berbeda-beda.
Sangatlah tidak adil jika misalnya Ramadhan (bulan menunaikan ibadah
puasa) ditetapkan menurut sistem kalender solar atau lunisolar, sebab
hal ini mengakibatkan masyarakat Islam di suatu kawasan berpuasa selalu
di musim panas atau selalu di musim dingin. Sebaliknya, dengan memakai
kalender lunar yang murni, masyarakat Kazakhstan atau umat Islam di
London berpuasa 16 jam di musim panas, tetapi berbuka puasa pukul empat
sore di musim dingin. Umat Islam yang menunaikan ibadah haji pada suatu
saat merasakan teriknya matahari Arafah di musim panas, dan pada saat
yang lain merasakan sejuknya udara Makkah di musim dingin.Perhitungan
Tahun HijriyahPada masa Nabi Muhammad s.a.w. penyebutan tahun tidaklah
memakai angka melainkan berdasarkan suatu peristiwa yang dianggap
penting pada tahun tersebut. Misalnya, Nabi Muhammad s.a.w. lahir
tanggal 12 Rabi`ul-Awwal Tahun Gajah (`Am al-Fil), sebab pada tahun
tersebut pasukan bergajah raja Abrahah dari Yaman berniat menyerang
Ka`bah. Nabi Muhammad s.a.w. mengalami Isra’ dan Mi`raj tanggal 27 Rajab
Tahun Dukacita (`Am al-Huzn), sebab pada tahun itu Khadijah (istri
Nabi) dan Abu Talib (paman Nabi) wafat. Kelahiran Nabi dan peristiwa
Isra’-Mi`raj masing-masing bertepatan dengan tanggal 23 April 571 dan 27
Februari 621 Masehi.Ketika Nabi Muhammad s.a.w. wafat tahun 632,
kekuasaan Islam baru meliputi Semenanjung Arabia. Tetapi pada masa
Khalifah Umar ibn Khattab (634-644) kekuasaan Islam meluas dari Mesir
sampai Persia. Pada tahun 638, gubernur Iraq Abu Musa al-Asy`ari
berkirim surat kepada Khalifah Umar di Madinah, yang isinya antara lain:
“Surat-surat kita memiliki tanggal dan bulan, tetapi tidak berangka
tahun. Sudah saatnya umat Islam membuat tarikh sendiri dalam perhitungan
tahun.”Khalifah Umar ibn Khattab menyetujui usul gubernurnya ini.
Terbentuklah panitia yang diketuai Khalifah Umar sendiri dengan anggota
enam Sahabat Nabi terkemuka, yaitu Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Talib,
Abdurrahman ibn Auf, Sa`ad ibn Abi Waqqas, Talhah ibn Ubaidillah, dan
Zubair ibn Awwam. Mereka bermusyawarah untuk menentukan Tahun Satu dari
kalender yang selama ini digunakan tanpa angka tahun. Ada yang
mengusulkan perhitungan dari tahun kelahiran Nabi (`Am al-Fil, 571 M),
dan ada pula yang mengusulkan tahun turunnya wahyu Allah yang pertama
(`Am al-Bi’tsah, 610 M). Tetapi akhirnya yang disepakati panitia adalah
usul dari Ali ibn Abi Talib, yaitu tahun berhijrahnya kaum Muslimin dari
Makkah ke Madinah (`Am al-Hijrah, 622 M).Ali ibn Abi Talib mengemukakan
tiga argumentasi. Pertama, dalam Al-Qur’an sangat banyak penghargaan
Allah bagi orang-orang yang berhijrah (al-ladziina haajaruu). Kedua,
masyarakat Islam yang berdaulat dan mandiri baru terwujud setelah hijrah
ke Madinah. Ketiga, umat Islam sepanjang zaman diharapkan selalu
memiliki semangat hijrah, yaitu jiwa dinamis yang tidak terpaku pada
suatu keadaan dan ingin berhijrah kepada kondisi yang lebih baik.Maka
Khalifah Umar ibn Khattab mengeluarkan keputusan bahwa tahun hijrah Nabi
adalah Tahun Satu, dan sejak saat itu kalender umat Islam disebut
Tarikh Hijriyah. Tanggal 1 Muharram 1 Hijriyah bertepatan dengan hari
Jum’at 16 Tammuz 622 Rumi (16 Juli 622 Masehi). Tahun keluarnya
keputusan Khalifah itu (638 M) langsung ditetapkan sebagai tahun 17
Hijriyah. Dokumen tertulis bertarikh Hijriyah yang paling awal
(mencantumkan Sanah 17 = Tahun 17) adalah Maklumat Keamanan dan
Kebebasan Beragama dari Khalifah Umar ibn Khattab kepada seluruh
penduduk kota Aelia (Jerusalem) yang baru saja dibebaskan laskar Islam
dari penjajahan Romawi.Sistem Kalender HijriyahDari Muharram sampai
Dzulhijjah, setiap bulan 30 atau 29 hari sehingga 354 hari setahun.
Dalam setiap siklus 30 tahun, 11 tahun adalah kabisat (Dzul-Hijjah
dijadikan 30 hari), yaitu tahun-tahun ke-2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21,
24, 26 dan 29. Awal bulan (tanggal satu) ditandai dengan munculnya hilal
(sehari atau dua hari sesudah konjungsi), yang dapat ditentukan dengan
metode hisab (perhitungan astronomis) atau metode ru’yah (menyaksikan
hilal dengan mata).Dalam tahun 2008 Masehi terdapat dua kali tahun baru
Hijriyah. Pada 10 Januari 2008, kita memulai tahun baru 1 Muharram 1429
Hijriyah, tahun ke-19 dalam siklus 1411-1440. Sebelum tahun 2008
berakhir, umat Islam merayakan tahun baru lagi, sebab tanggal 1 Muharram
1430 Hijriyah jatuh pada 29 Desember 2008.Oleh karena peredaran bulan
adalah sesuatu yang eksak, maka awal puasa dan Idul-Fitri pada masa
mendatang sudah dapat kita hitung secara ilmiah! Kita akan memulai
ibadah puasa Ramadhan tanggal 1 September 2008 dan merayakan Idul-Fitri
tanggal 1 Oktober 2008. Kemudian kita akan berpuasa Ramadhan lagi mulai
22 Agustus 2009, lalu berlebaran pada 20 September 2009. Selanjutnya
kita bertemu Ramadhan lagi tanggal 11 Agustus 2010 dan Idul-Fitri akan
jatuh pada 10 September 2010. Mudah-mudahan nanti tidak ada perbedaan
antara hisab dan ru’yah!Setiap 32 atau 33 tahun, dalam satu tahun Masehi
terjadi dua kali Idul-Fitri (awal Januari dan akhir Desember) seperti
pada tahun 2000 yang lalu. Para pegawai memperoleh THR dua kali, serta
Idul-Fitri berdekatan dengan Tahun Baru Masehi. Fenomena ini pernah
terjadi pada tahun 1870, 1903, 1935, 1968, dan akan berlangsung lagi
tahun 2033, 2065, 2098, 2130, dan seterusnya.
Konversi Kalender Hijriyah ke Masehi
1 Muharram 100 H = 3 Agustus 718 M
1 Muharram 200 H = 11 Agustus 815 M
1 Muharram 300 H = 18 Agustus 912 M
1 Muharram 400 H = 25 Agustus 1009 M
1 Muharram 500 H = 2 September 1106 M
1 Muharram 600 H = 10 September 1203 M
1 Muharram 700 H = 17 September 1300 M
1 Muharram 800 H = 24 September 1397 M
1 Muharram 900 H = 2 Oktober 1494 M
1 Muharram 1000 H = 18 Oktober 1591 M
1 Muharram 1100 H = 26 Oktober 1688 M
1 Muharram 1200 H = 4 November 1785 M
1 Muharram 1300 H = 12 November 1882 M
1 Muharram 1400 H = 21 November 1979 M
1 Muharram 1500 H = 29 November 2076 M
Oleh
karena 32 tahun Masehi = 33 tahun Hijriyah (97 tahun Masehi = 100 tahun
Hijriyah), maka konversi tahun Hijriyah ke tahun Masehi atau sebaliknya
dapat dilakukan dengan memakai rumus:M = 32/33 H + 622H = 33/32 ( M –
622 )Kalender Hijriyah setiap tahun 11 hari lebih cepat dari kalender
Masehi, sehingga selisih angka tahun dari kedua kalender ini lambat laun
makin mengecil. Angka tahun Hijriyah pelan-pelan ‘mengejar’ angka tahun
Masehi, dan menurut rumus di atas keduanya akan bertemu pada tahun
20526 Masehi yang bertepatan dengan tahun 20526 Hijriyah. Saat itu kita
entah sudah berada di mana. “Perhatikanlah waktu! Sesungguhnya manusia
benar-benar dalam kerugian...” demikian pesan suci Al-Qur’an.Kalender
SakaSebelum membahas kalender Hijriyah-Jawa, ada baiknya kita membahas
dahulu kalender Saka yang dipakai nenek moyang kita sewaktu masih
memeluk agama Hindu. Kalender Saka dimulai tahun 78 Masehi ketika kota
Ujjayini (Malwa di India sekarang) direbut oleh kaum Saka (Scythia) di
bawah pimpinan Maharaja Kaniska dari tangan kaum Satavahana.Tahun baru
terjadi pada saat Minasamkranti (matahari pada rasi Pisces) awal musim
semi. Nama-nama bulan adalah Caitra, Waisaka, Jyestha, Asadha, Srawana,
Bhadrawada, Aswina (Asuji), Kartika, Margasira, Posya, Magha, Phalguna.
Kalender Saka merupakan kalender lunisolar. Agar sesuai kembali dengan
matahari, bulan Asadha dan Srawana diulang secara bergiliran setiap tiga
tahun dengan nama Dwitiya Asadha dan Dwitiya Srawana.Awal setiap bulan
adalah saat bulan mati (konjungsi), sehingga tanggal kalender Saka
umumnya lebih dahulu sehari dari tanggal kalender Hijriyah yang diawali
munculnya hilal. Setiap bulan dibagi menjadi dua bagian yaitu suklapaksa
(paro terang, dari bulan mati sampai purnama) dan kresnapaksa (paro
gelap, dari selepas purnama sampai menjelang bulan mati). Masing-masing
bagian berjumlah 15 atau 14 hari (tithi). Jadi kalender Saka tidak
mempunyai tanggal 16. Misalnya, tithi pancami suklapaksa adalah tanggal
lima, sedangkan tithi pancami kresnapaksa adalah tanggal dua
puluh.Konsep sunya (kosong) dalam ajaran Hindu mendasari kalender Saka
untuk menghitung tahun dari Nol. Tanggal 1 Caitra tahun Nol bertepatan
dengan tanggal 14 Maret 78. Tahun baru 1 Caitra 1930 jatuh pada tanggal 7
Maret 2008. Di Indonesia kita mengenal tahun baru Saka sebagai Hari
Raya Nyepi.Di daratan Asia Tenggara, dari Myanmar sampai Vietnam,
berlaku kalender Buddha yang menghitung tahun dari 544 SM, tahun
Siddharta Gautama dilahirkan. Sistem kalendernya sama dengan kalender
Saka. Tahun baru 2552 jatuh pada tanggal 7 Maret 2008. Tetapi tanggal
yang dimuliakan umat Buddha bukanlah tahun baru, melainkan malam purnama
bulan Waisaka, saat kelahiran dan pencerahan Sang Buddha. Itulah Hari
Raya Waisak yang tahun ini jatuh pada tanggal 20 Mei 2008.Kalender
Hijriyah-JawaKalender Saka dipakai di Jawa sampai awal abad ke-17.
Kesultanan Demak, Banten, dan Mataram menggunakan kalender Saka dan
kalender Hijriyah secara bersama-sama. Pada tahun 1633 Masehi (1555 Saka
atau 1043 Hijriyah), Sultan Agung Ngabdurahman Sayidin Panotogomo
Molana Matarami (1613-1645) dari Mataram menghapuskan kalender lunisolar
Saka dari Pulau Jawa, lalu menciptakan Kalender Jawa yang mengikuti
kalender lunar Hijriyah. Cuma bilangan tahun 1555 tetap dilanjutkan.
Jadi 1 Muharram 1043 Hijriyah adalah 1 Muharam 1555 Jawa, yang jatuh
pada hari Jum`at Legi (Sweet Friday) tanggal 8 Juli 1633 Masehi. Angka
tahun Jawa selalu berselisih 512 dari angka tahun Hijriyah. Keputusan
Sultan Agung ini disetujui dan diikuti oleh Sultan Abul-Mafakhir Mahmud
Abdulkadir (1596-1651) dari Banten. Dengan demikian kalender Saka tamat
riwayatnya di seluruh Jawa, dan digantikan oleh kalender Jawa yang
sangat bercorak Islam dan sama sekali tidak lagi berbau Hindu atau
budaya India.Nama-nama bulan disesuaikan dengan lidah Jawa: Muharam,
Sapar, Rabingulawal, Rabingulakir, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb,
Saban, Ramelan, Sawal, Dulkangidah, Dulkijah. Muharram juga disebut
bulan Sura sebab mengandung Hari Asyura 10 Muharram. Rabi`ul-Awwal
dijuluki bulan Mulud, yaitu bulan kelahiran Nabi Muhammad s.a.w.
Rabi`ul-Akhir adalah Bakdamulud atau Silihmulud, artinya “sesudah
Mulud”. Sya`ban merupakan bulan Ruwah, saat mendoakan arwah keluarga
yang telah wafat, dalam rangka menyambut bulan Pasa (puasa Ramadhan).
Dzul-Qa`dah disebut Hapit atau Sela sebab terletak di antara dua hari
raya. Dzul-Hijjah merupakan bulan Haji atau Besar (Rayagung), saat
berlangsungnya ibadah haji dan Idul Adha.Nama-nama hari dalam bahasa
Sansekerta (Raditya, Soma, Anggara, Budha, Brehaspati, Sukra,
Sanaiscara) yang berbau jahiliyah (penyembahan benda-benda langit) juga
dihapuskan oleh Sultan Agung, lalu diganti dengan nama-nama hari dalam
bahasa Arab yang disesuaikan dengan lidah Jawa: Ahad, Senen, Seloso,
Rebo, Kemis, Jumuwah, Saptu. Tetapi hari-hari pancawara (Pahing, Pon,
Wage, Kaliwuan, Umanis atau Legi) tetap dilestarikan, sebab hal ini
merupakan konsep asli masyarakat Jawa, bukan diambil dari kalender Saka
atau budaya India.Dalam setiap siklus satu windu (delapan tahun),
tanggal 1 Muharam (Sura) berturut-turut jatuh pada hari ke-1, ke-5,
ke-3, ke-7, ke-4, ke-2, ke-6 dan ke-3. Itulah sebabnya tahun-tahun Jawa
dalam satu windu dinamai berdasarkan numerologi huruf Arab: Alif (1), Ha
(5), Jim Awwal (3), Zai (7), Dal (4), Ba (2), Waw (6) dan Jim Akhir
(3). Sudah tentu pengucapannya menurut lidah Jawa: Alip, Ehe, Jimawal,
Je, Dal, Be, Wawu dan Jimakir. Tahun-tahun Ehe, Dal dan Jimakir
ditetapkan sebagai kabisat. Jumlah hari dalam satu windu adalah (354 x
8) + 3 = 2835 hari, angka yang habis dibagi 35 (7 x 5). Itulah sebabnya
setiap awal windu (1 Muharam tahun Alip) selalu jatuh pada hari dan
pasaran yang sama.Menarik untuk dicatat bahwa jika umat Islam di luar
Jawa hanya mengenal Senin 12 Rabi`ul-Awwal sebagai hari dan tanggal
kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. maka umat Islam di Jawa menyebutkan saat
lahirnya Junjungan kita yang mulia itu secara lebih komplit: Senin Pon
12 Rabingulawal (Mulud) Tahun Dal.Oleh karena kabisat Jawa tiga dari
delapan tahun (3/8 = 45/120), sedangkan kabisat Hijriyah 11 dari 30
tahun (11/30 = 44/120), maka dalam setiap 15 windu (120 tahun), yang
disebut satu kurup, kalender Jawa harus hilang satu hari, agar kembali
sesuai dengan kalender Hijriyah. Sebagai contoh, kurup pertama
berlangsung dari Jum`at Legi 1 Muharam tahun Alip 1555 sampai Kamis
Kliwon 30 Dulkijah tahun Jimakir 1674. Di sini 30 Dulkijah dihilangkan.
Dengan demikian Rabu Wage 29 Dulkijah tahun Jimakir 1674 akhir kurup
pertama langsung diikuti oleh awal kurup kedua Kamis Kliwon 1 Muharam
tahun Alip 1675. Jadi, awal windu (1 Muharam tahun Alip) bergeser dari
Jum`at Legi menjadi Kamis Kliwon. Setelah 120 tahun berikutnya, awal
windu harus bergeser lagi menjadi Rabu Wage, kemudian pada gilirannya
menjadi Selasa Pon, dan seterusnya.Setiap kurup (periode 120 tahun)
dinamai menurut hari pertamanya. Periode 1555-1674 (1633-1749 Masehi)
disebut kurup jamngiah (Awahgi = tahun Alip mulai Jumuwah Legi),
kemudian periode 1675-1794 (1749-1866 Masehi) disebut kurup kamsiah
(Amiswon = Alip-Kemis-Kliwon), dan periode 1795-1914 (1866-1982 Masehi)
disebut kurup arbangiah (Aboge = Alip-Rebo-Wage).
Sejak
tanggal 1 Muharam tahun Alip 1915 (1 Muharram 1403 Hijriyah) yang
bertepatan dengan tanggal 19 Oktober 1982, kita berada dalam kurup
salasiah (Asopon = Alip-Seloso-Pon), yaitu periode 1915-2034 Jawa
(1982-2099 Masehi), di mana setiap tanggal 1 Muharam tahun Alip pasti
jatuh pada hari Selasa Pon.
1 Muharam Alip 1939 (1427 H) = Selasa Pon 31 Januari 2006
1 Muharam Ehe 1940 (1428 H) = Sabtu Pahing 20 Januari 2007
1 Muharam Jimawal 1941 (1429 H) = Kamis Pahing 10 Januari 2008
1 Muharam Je 1942 (1430 H) = Senin Legi 29 Desember 2008
1 Muharam Dal 1943 (1431 H) = Jumat Kliwon 18 Desember 2009
1 Muharam Be 1944 (1432 H) = Rabu Kliwon 8 Desember 2010
1 Muharam Wawu 1945 (1433 H) = Ahad Wage 27 November 2011
1 Muharam Jimakir 1946 (1434 H) = Kamis Pon 15 November 2012
1 Muharam Alip 1947 (1435 H) = Selasa Pon 5 November 2013
1 Muharam Ehe 1948 (1436 H) = Sabtu Pahing 25 Oktober 2014
1 Muharam Jimawal 1949 (1437 H) = Kamis Pahing 15 Oktober 2015
1 Muharam Je 1950 (1438 H) = Senin Legi 3 Oktober 2016
1 Muharam Dal 1951 (1439 H) = Jumat Kliwon 22 September 2017
1 Muharam Be 1952 (1440 H) = Rabu Kliwon 12 September 2018
1 Muharam Wawu 1953 (1441 H) = Ahad Wage 1 September 2019
1 Muharam Jimakir 1954 (1442 H) = Kamis Pon 20 Agustus 2020
1 Muharam Alip 1955 (1443 H) = Selasa Pon 10 Agustus 2021
1 Muharam Alip 1955 (1443 H) = Selasa Pon 10 Agustus 2021
1 Muharam Ehe 1956 (1444 H) = Sabtu Pahing 30 Juli 2022
1 Muharam Jimawal 1957 (1445 H) = Kamis Pahing 20 Juli 2023
1 Muharam Je 1958 (1446 H) = Senin Legi 8 Juli 2024
1 Muharam Dal 1959 (1447 H) = Jumat Kliwon 27 Juni 2025
1 Muharam Be 1960 (1448 H) = Rabu Kliwon 17 Juni 2026
1 Muharam Wawu 1961 (1449 H) = Ahad Wage 6 Juni 2027
1 Muharam Jimakir 1962 (1450 H) = Kamis Pon 25 Mei 2028
sumber ; ikrar-arohman.blogspot.com
SEJARAH TENTANG Ir.SUKARNO DAN K.H.MAMA AMILIN
SEJARAH TENTANG Ir.SUKARNO DAN K.H.MAMA AMILIN
Sejarah Tentang Mama Amilin Abdul Jabbar dengan Ir. Soekarno hun 1920 -an Pak Kasedanmenempuh pendidikan di HBS bandung sekarang berubah menjadi ITB Bandung, sampai gelar insiur
Jadi
sekitar tahun 1920-an pak Karno sedang menempuh pendidikan di HBS
Bandung sekarang berubah menjadi ITB bandung, sampai gelar insinyur
beliau dapatkan di HBS Bandung,
Di masa
kuliah beliau itu KH. Mamak Amilin tinggal di daerah Lengkong besar
dekat alun-alun bandung dan beliau PaK Kano ikutan ngaji ke mama
amilin, kebetulan tempat kos beliau saat itu dekat dengan tempat Mama
amilin saat itu,
Dan apa yang terjadi setelah itu beliau
semakin dekat dan menjadi pemimpin bangsa,dan Mama Amilin Abdul Jabbar
banyak di minta petuahnya di dalam perjuangan beliau, bahkan sampai
apa lambang negara, butir-butir pancasila dan masih banyak hal lainnya
yang beliau minta petuah.KH.Mama amilin abdul jabbar Dan Bung karno
beliau Mama Sepuh KH Amilin lahir sekitar 1800 an, meninggal sekitar tahun 1962 dan dimakamkan di daerah Dayeuh Kolot Bandung dan bergelar Abdul Jabar diketahui sebagai salah satu guru spiritual presiden pertama Indonesia Bapak Ir. Soekarno. Beliau yg memprakarsai lahirnya falsafah negara Indonesia - Pancasila. Salahsatunya lambang Burung Garuda ini memiliki 17 sayap yg memiliki arti adalah "Hal yg lebih tajam dari Pedang Sayidina Ali RA adalah ahlak/perilaku yg mulia" (arti yg diambil dari tulisan arab yg membentuk sayap burung garuda).
Sungguh mulia bagian arti dari burung garuda ini. Dahulu dari sejarah nabi,Ahlak mulia memang hubungannya dengan Ahlak Nabi Muhammad SAW yg sungguh mulia. Bisa dihubungkan dengan kedua kalimah syahadat yg mengutamakan Ahlak yg baek. (segitu dulu ya)
***********************************************************************************
Oleh: H. Muhammad Said Kusuma*
SEJARAH YANG HILANG (MISSLINK)
Apabila kita berbicara tentang Pancasila, maka kita tidak akan lepas dari perjuangan tokoh-tokoh yang berhubungan dengan Pancasila, yaitu Tokoh-tokoh PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), seperti:
Ir. Ahmad Soekarno
Muhammad Hatta
Sultan Syahrir
Douwes Dekker
Abdul Gani
Muhammad Yamin
Mochamad Toha
Toloh-tokoh dari Sisi “Spiritual”, yaitu :
Ir. Ahmad Soekarno
Mama Amilin Abdul Jabbar
Eyang Santri Kalammullah (Jati Kusuma)
KH. Surya Poerwanegara
Wali Cipta Gati Arjakusuma (Eyang Kencana Gading)
Mualim Adang
Perjalanan Sejarah Ir. Ahmad Soekarno dalam menentukan Pancasila sebagai Lambang Negara dan 17 Agustus 1945 sbg Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Perjalanan ini dimulai saat Anak Bung Karno yaitu Guntur Soekarno Putra berumur 10 Tahun (Di Gunung Guntur Garut). Terjadilah dialog antara Bung Karno dengan para Tokoh Spiritualnya itu. Setelah dialog itu lalu Bung Karno pergi ke Gunung Salak – BOGOR yaitu di Taman Sari di dekat sebuah Pohon Waru untuk berkhalwat, bermunajat kepada Allah SWT.
Khalwat Hari I (Pertama) BUNG KARNO
Dalam khalwat pada hari pertama itu, Bung Karno memohon bermunajat kepada Allah SWT; Apakah kiranya yang akan dipakai sebagai Lambang Negara Republik Indonesia ini? Pada hari itu tiba-tiba muncul se-ekor Burung Elang Bondol dan mendarat di Pohon Waru. Bung Karno berpikir, mungkinkah ini yang akan dijadikan Lambang Negara ? namun akhirnya Bung Karno meneruskan kembali khalwatnya memohon petunjuk dari Allah SWT.
Khalwat Hari II (Kedua) BUNG KARNO
Khalwat pada hari ke-Dua itu mendarat se-ekor Burung Elang Laut di pohon waru, yang besarnya melebihi Burung Elang Bondol. Saat Bung Karno melihat burung itu, ia berpikiran mungkinkah ini, tetapi Bung Karno akhirnya berpikiran mungkin bukan ini petunjuk dari Allah sebagai Lambang Indonesia sehingga Bung Karno akhirnya melanjutkan lagi khalwatnya.
Khalwat Hari III (Ketiga) BUNG KARNO
Pada khlawat hari yang ketiga itu tiba-tiba Bung Karno melihat dari atas udara turun se-ekor Burung Elang yang dari jauh kelihatan kecil lama kelamaan menjadi besar dan mendarat di Pohon Waru. Burung Elang itu mempunyai Bentangan Sayap 1,5 – 1,8 Meter yang berwarna Emas. Selanjutnya Burung Elang itu disebut juga Burung Rajawali yang merupakan Burung khas Indonesia khususnya Jawa Barat.
Setelah melihat Burung Rajawali (Elang) yang sedemikian besar itu, lalu Bung Karno meminta Petunjuk kepada Allah SWT. Jika Burung Rajawali ini benar sebagai Lambang Negara Republik Indonesia, Bung Karno mohon diberikan petunjuk dan tandanya. Sehingga pada saat itu tiba-tiba Burung Rajawali itu Mengepakkan Sayapnya sebanyak 3 (tiga) kali sambil mengangguk dan lalu berdiri sambil menunjukkan Dadanya. Selanjutnya Bung Karno pada saat itu berkeyakinan bahwa Burung Rajawali itu sebagai Lambang Negara Republik Indonesia.
Dialog Bung Karno tentang Lambang Negara
Setelah kejadian itu lalu Bung Karno mengadakan Dialog dengan Para Tokoh Spritritual, antara lain:
Mama Amilin Abdul Jabbar berpendapat ; Burung Elang atau Rajawali diganti namanya menjadi Burung Garuda. Eyang Santri Kalamullah berpendapat; Burung itu adalah Burung Garuda dengan Bahasa Alam utk Akhirat dan Agama. Dari Dialog itu maka Bung Karno bersepakat bahwa Lambang Negara Republik Indonesia adalah Burung Garuda.
Dialog Hari Penentuan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia
Pada masa itu Bung Karno mengusulkan tanggal 15 Agustus 1945 adalah sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia. Tetapi Eyang Santri Kalamullah mengusulkan Hari Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agurtus 1945. Sehingga pada rapat tersebut akhirnya semua sepakat bahwa 17 Agustus 1945 sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Adapun makna dari pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah sebagai berikut :
a. 17 ; berarti jumlah 17 Raka’at Shalat sehari semalam
b. 8 ; berarti 8 Arah Penjuru Mata Angin
c. 19 ; 19 huruf Hijaiyah BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
d. 45 ; berarti jika dijumlahkan menjadi angka 9 (sembilan) yang berarti Wali Songo yang telah berjasa menyebarkan agama Islam di Bumi Nusantara
Dari hal ini saja mestinya kita harus Bangga bahwa sesungguhnya Negara yang kita cintai ini yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri atas KASIH dan SAYANG Allah SWT yang dilimpahkan untuk Bumi Nusantara ini.
***********************************************************************************
Posting ini hanya sekedar keingintahuan saya mengenai KH. Mama Amilin Abdul Jabar, karena keluarga saya adalah pengikutnya
*sumber : http://zeroo-jelajahtauhid.blogspot.com/
Diposkan oleh sama-sama belajar memperbaiki diri sendiri di 23
Bersembunyi di tempat terang
(http://wwwruanggelappenuhperenungancom.blogspot.com/2010/12/asma-allah.html)
Sejarah Tentang Mama Amilin Abdul Jabbar dengan Ir. Soekarno hun 1920 -an Pak Kasedanmenempuh pendidikan di HBS bandung sekarang berubah menjadi ITB Bandung, sampai gelar insiur
Jadi
sekitar tahun 1920-an pak Karno sedang menempuh pendidikan di HBS
Bandung sekarang berubah menjadi ITB bandung, sampai gelar insinyur
beliau dapatkan di HBS Bandung,
Di masa
kuliah beliau itu KH. Mamak Amilin tinggal di daerah Lengkong besar
dekat alun-alun bandung dan beliau PaK Kano ikuta ngaji ke mama amilin,
kebetulan tempat kos beliau saat itu dekat dengan tempat Mama amilin
saat itu,
Dan apa yang terjadi setelah
itu beliau semakin dekat dan menjadi pemimpin bangsa,dan Mama Amilin
Abdul Jabbar banyak di minta petuahnya di dalam perjuangan beliau,
bahkan sampai apa lambang negara, butir-butir pancasila dan masih banyak
hal lainnya yang beliau minta petuah.
b
Read more: Bung Karno Pernah Dicoba Dibunuh 7 Kali | »BlackBlogger™ http://sefrian92.blogspot.com/2011/02/bung-karno-pernah-dicoba-dibunuh-7-kali.html#ixzz1S700tPFreliau I. MENGKAJI AL – HIKMAH
Alhamdulillahihi robbil alamin, Allah menjadikan kita sebagai orang – orang yang mendapatkan b
Sejak 1950 sampai 1965 telah terjadi 7 kali percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno,
yaitu :
1. Penggranatan di Cikini
Terjadi
pada tanggal 30 Nopember 1957, di Cikini, dimana pada saat itu Bung
Karno menghadiri peringatan ulang tahun Yayasan Perguruan Cikini. Guntur
dan Megawati adalah murid SD Yayasan Perguruan Cikini. Bung Karno
sempat meninjau berkeliling sekitar 25 menit, dan ketika pulang
tiba-tiba terdengar ledakan hebat, yang belakangan adalah ledakan granat
yang dilempar dari sekitar sekolah. Para pelakunya Juyuf Ismail,
Saadon bin Mohammad, Tasrif bin Husein, dan Moh Tasin bin Abubakar
berhasil dibekuk dan di hadapkan ke pengadilan militer. Mereka di
jatuhi hukuman mati pada 28 April 1958.
2. Penembakan dengan Pesawat MIG-17 ke Istana Negara
Pada
tanggal 9 Maret 1960, Bung Karno sedang berada di Istana Merdek.
Sebuah pesawat terbang MIG 15 terbang rendah dan meluncurkan roket
tepat mengenai Istana Merdeka. Namun, Tuhan telah menggerakkan
tangan-Nya untuk melindungi Bung Karno. Letnan Penerbang maukar, pilot
pesawat itu mendaratkan pesawatnya di persawahan daerah garut karena
kehabisan bahan bakar. Ia kemudian dijatuhi hukuman mati, tetapi
sebelum sempat menjalani hukumannya, Bung Karno mengumumkan amnesty
umum terhadap PRRI/PERMESTA
Yang pernah memberontak. Maukar yang termasuk unsure PRRI.PERMESTA, langsung dibebaskan.
3. Usaha penembakan dalam acara Idhul Adha
Pada
tanggal 14 Mei 1962, saat orang-orang mukmn termasuk Bung Karno sedang
berjajar dalam shaf hendak mealksanakan Sholat Iedul Adha dengan
mengambil tempat di lapangan rumput antara Istana Merdeka dan Istana
Negara, tiba-tiba terdengar tembakan pistol bertubi-tubi diarahkan
kepada Bung Karno dari jarak 4 shaf dibelakangnya. Ketika diperiksa,
penembak mengaku melihat Bungkarno yang dibidiknya, ada dua orang dan
menjadi bingunglah ia jendak menembak yang mana. ZTembakannya meleset
tidak mengenai Bung Karno yang menjadi sasaran, sebaliknya menyerempet
bahu Ketua DPR Zainul Arifin dari NU yang mengimami shalat. Orang
tersebut divonis mati, tetapi ketika disodorkan kepada Bung Karno untuk
membubuhkan tandatangan untuk di eksekusi, Bung Karno tidak sampai hati
untuk merentangkan jalan menuju kematiannya, karena ia berpikir bahwa
pembunuh sesungguhnya adalah orang-orang terpelajar ultra fanatic yang
merencanakan perbuatan itu.
Seorang
kiai yang memimpin pesantren di daerah Bogor H. Moh Bachrm, dituduh
mengatur rencana tersebut dan memerintahkan melakukannya. Setelah
meletus G30S, tempat tahanannya dipindahkan dari RTM ke Penjara Salemba
berbaur dengan ribuan tahanan G30S. ditempat itu juga ditahan seorang
kapten CPM yang pernah menginterograsinya. Haji Moh. Bachrum menyangkal
semua tuduhan. Sikapnya terhadap tahanan G30S, sangat baik dan selama
di Salemba, ia ditunjuk mengimami sembahyang berjamaan yang diikuti
oleh semua tahanan yang beragama Islam yang diselenggarakan di lapangan
penjara. Ia bebas lebih cepat dari pada para tahanan G30S, karena
dianggap berkelakuan baik.
4. Serangan mortar dari gerombolan Kahar Muzakar
Di
jalanan keluar dari Laangan Terbang mandai menuju Kota. Peluru mortar
diarahkan untuk mengenai kendaraan Bung Karno, tetapi ternyata meleset
jauh
5. Pelemparan granat di Makassar
Bung Karno dilempar granat pada malam hari di Jalan
Cenderawasih, saat Bung Karn dalam perjalanan menuju Gedung Olahraga
mattoangnn untuk mengghadiri suatiu acara. Lemparan granat itu meleset
dan jatuh mengenai mobil lain yang beriringan dengan mobil Bung Karno
dan tidak menimbulkan cedera apa-apa
6. Terjadi ketika suatu hari Bung Karno dalam perjalanan mdari Bogor
ke Jakarta dalam satu iring-iringan. Bung Karno melihat sendiri seorang
laki-laki dengan gerak-gerik aneh seperti maling. Dan tiba-tiba saja
melemparkan granat ke arah mobil Bung Karno.
Silakan Berkomentar, dan jangan diluar jalur..oke!
Read more: Bung Karno Pernah Dicoba Dibunuh 7 Kali | »BlackBlogger™ http://sefrian92.blogspot.com/2011/02/bung-karno-pernah-dicoba-dibunuh-7-kali.html#ixzz1S700tPFreliau I. MENGKAJI AL – HIKMAH
hidayah untuk mendapatkan pelajaran tentang Al – Hikmah.
AL – HIKMAH
Bagi sebagian orang yang mendapatkan Hidayah belajar Al – Hikmah maka terkadang beranggapan Al – Hikmah adalah Ilmu seperti pada umumnya. Tapi Al - Hikmah dikaji dalam bahasa
Maka kita akan mendapatkan arti dari asal kata HIKMAH yang artinya
Mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi atau yang kita alami
Dengan mengembalikan segala sesuatunya kepada kesadaran akan kekuasaan Allah,SWT.
Al – Hikmah bagi kita sebagai Ikhwan dan Akhwat sebagai perantara
untuk mencari kasih sayang dan ke-Ridhoan Allah, SWT.
”Barang siapa taat kepada Allah dan kepada Rasul, maka mereka itu akan ) bersama – sama dengan orang yang diberi ni’mat oleh Allah, ya’ni dari golongan para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Shaalihin. Mereka itu teman yang baik”.(QS. An – Nisaa-i : Ayat 69)
Dengan cara mencintai Allah,SWT semoga Allah,SWT pun akan mencintai kita.
sumber : AL-HIKMAH WILAYAH KAL-BAR CABANG SINTANG(SEPAUK)
Langganan:
Postingan (Atom)